Perjalanan Panjang untuk mencapai Level Master

PEAK, Secret From The New Science of Expertise ditulis oleh Anders Ericsson dan Robert Pool. Buku ini bagus. Berkisah tentang the science of expertise. Tentang perjalanan mencapai level master..

PEAK
Penulis buku ini melakukan riset yang pertama kali untuk menemukan aturan 10 ribu jam untuk mencapai level skills yang mumpuni. 10.000 hours principle: artinya kita perlu praktek spartan selama 10 ribu jam untuk mencapai puncak keahlian dalam profesi yang kita tekuni. Namun jangan salah, praktek spartan disini adalah praktek yang fokus dengan goal spesifik dan selalu berorientasi pada improvement tanpa henti.

Kenapa begitu?, Sebab dalam buku itu ada studi yang menarik, ternyata orang yang punya pengalaman kerja 15 tahun belum tentu lebih bagus daripada yang hanya 2 tahun. Dokter, guru atau profesi lain dengan pengalaman 20 tahun ternyata tidak lebih bagus daripada yang baru kerja 2 tahun. Bahkan kadang lebih buruk kinerjanya. Sama. Karyawan dengan pengalaman kerja 20 tahun belum tentu lebih bagus daripada yang baru kerja 2 tahun. #Peak #TheScienceofExpertise
10.000 hours principle: artinya kita perlu praktek spartan selama 10 ribu jam untuk mencapai puncak keahlian dalam profesi yang kita tekuni.

Ungkapan jam terbang itu amat menentukan kinerja, mungkin separo mitos. Tidak selamanya jam terbang tinggi membuat kita jadi pakar. Kenapa begitu?, Kenapa orang dengan pengalaman kerja puluhan tahun belum tentu lebih bagus dan bahkan kadang justru lebih buruk kinerjanya?. Ericsson menulis, hal ini disebabkan kebanyakan orang menjalani pengalamannya hanya dengan rutinitas - tanpa intensi untuk lakukan deliberate improvement.

Sejumlah orang menjalani pekerjaannya just for average results. Lama-lama terjebak comfort zone. Skill-nya stagnan meski waktu terus berjalan. Maka orang dengan pengalaman kerja 10 tahun mungkin aslinya hanya 1 tahun. Lalu diulang 10 kali.  Menjadi rutinitas kerja yang stagnan.

Untuk mencapai level master kita mesti melakukan apa yang disebut ericsson sebagai "deliberate practice", yakni: praktek konstan yang fokus pada  improvement. Deliberate practice maknanya kita praktek secara fokus pada area skills yang ingin kita kuasai dan selalu berorientasi pada improvement yang jelas.

Contoh: Jika kita mau jadi blogger for money. Deliberate practice yang harus kita lakukan: menulis 3 artikel/minggu, 800 kata/artikel. Lalu untuk bisa menulis dengan kualitas bagus, maka tiap malam kita harus baca buku yang relevan, minimal 30 lembar per malam. Lalu merangkum isinya. Lakukan itu semua terus menerus secara konstan selama 12 bulan. Itulah namanya deliberate practice. Melelahkan dan menguras energi.

Namun justru itulah yang membedakan deliberate practice dengan "shallow activities" yang dangkal dan "mudah dilakukan". Ericsson menulis: deliberate practice memang memaksa kita keluar dari comfort zone. Keluar dari rutinitas yang nyaman dan pelan-pelan membekukan. Kalau kita tidak merasa tersiksa (baik scara fisik dan mental), artinya yang kita lakukan bukanlah deliberate practice.

Langkah melakukan deliberate practice adalah:
  1. Tentukan skills spesifik apa yg ingin kita kuasai, yang relevan dengan pekerjaan/profesi kita. #Peak
  2. Identifikasi praktek-praktek terbaik seperti apa yang harus dilakukan untuk meningkatkan skills dalam area yang sudah kita tentukan.
  3. Susun goal atau target spesifik yang ingin kita raih, jika kita take action secara konstan. Lalu cek dan ukur realisasinya.

Jadi step-nya :
1. Tentukan skills yg mau diperbaiki
2. Susun target peningkatan skills
3. Take massive action
4. Cek dan ukur hasilnya.

Contoh untuk blogging for money, isinya :
  1. Peningkatan skill menulis
  2. Target : 3(tiga) artikel/minggu, 800 kata.
  3. Lakukan selama 12 bulan.
  4. Evaluasi.

Deliberate practice memang memaksa kita keluar dari comfort zone. Sangat melelahkan baik secara mental dan fisik. Maka banyak orang menyerah. Skills yang ampuh adalah salah satu kunci penentu sukses dan kemakmuran kita. Tanpa skill atau low skill, nasib kita macet. Banyak orang ingin kaya tapi tidak mau melakukan deliberate practice yang berdarah-darah. tidak mau susah payah. Ribuan jam diperlukan untuk menuju kemakmuran. Itupun bukan sekedar praktek rutinitas, namun intens, fokus dan selalu memburu improvement.

Mau jadi bloger milioner? Apakah kita siap menulis 3 artikel/minggu, 800 kata selama 5 tahun tanpa henti? Tak ada jalan mudah ke Roma. Mau jadi penulis legendaris? Apakah kita siap membaca 100 halaman buku, setiap malam dan merangkumnya selama 1500 hari tanpa henti?

Poinnya adalah tidak ada cara instan untuk jadi kaya dan makmur. Kalo action saja malas, bagaimana mau jadi kaya? Kaya dari Hongkong? :-p Take massive action. Take deliberate practice. Lalu selalu ukur hasilnya. Itu KOENTJI menuju kemakmoeran dan kekajaan. Konsep deliberate practice ini mungkin mirip dengan deep work. Sama-sama butuh fokus, konsentrasi tinggi + ketekunan.

Sayangnya, kecakapan sel otak kita untuk fokus dan melakukan deep concentration, kini makin "dirusak" oleh smartphone. Smartphone dengan segenap notifikasinya dan always on, pelan-pelan "melatih" otak kita untuk terus melompat dari satu titik ke titik lainnya. Attention span kita makin pendek, karena sel otak makin terbiasa berpindah-pindah : klik ini, klik itu, scroll, scroll, tap, tap. Kecakapan to do deliberate practice yang butuh konsentrasi tinggi, fokus dan ketekunan total, jadi kian pudar karena "smartphone syndrome". Smartphone syndrome pelan-pelan mungkin telah menggerus kemampuan melakukan deep work, dan merobohkan daya ketekunan untuk fokus.

Deep work dan deliberate practice adalah dua rute yang akan membuka jalan indah  menuju kemakmuran. Jalan indah yang layak dipeluk dengan hangat. Namun kadang sejumlah orang terlalu mudah menyerah, dan takluk dalam belantara kemacetan. Dalam era smartphone syndrom seperti saat ini, kegigihan untuk melakukan deliberate practice memang makin sulit ditemui. Banyak yang beku dalam sunyi. Ribuan jam action yang intens diperlukan untuk memperbaiki skills dan income. Jangan pernah menyerah. Never quit. Keep moving.

END-Expertise story-See you at the top.

Sumber: 
https://twitter .com/Strategi_Bisnis
http://www.fastcodesign .com/3027564/asides/scientists-debunk-the-myth-that-10000-hours-of-practice-makes-you-an-expert