Makhluk Sufipreneur

Sufipreneur: Ideologi Entrepreneurship + Teologi Sufisme

Sufipreneur adalah kombinasi istilah dari sufi dan entrepreneur. Sebuah kombinasi yang sejatinya menyimpan kontradiksi. Kenapa kontradiktif? Karena esensi entrepreneur adalah akumulasi profit. Sementara esensi sufi adalah menjauhi gemerlap dunia yang materialistik. Maka menyatukan dunia sufi yang memilih "jalan kesunyian" dengan dunia entrepreneur yang pekat dengan "ideologi profit", amatlah menarik diperjuangkan.

Sufipreneur
Sufi adalah jalan kesunyian dari gemerlap bendawi dunia. Sufi adalah keheningan dan jalan kecintaan total pada Sang Pencipta. Para Pelaku sufi lebih memilih jalan sepi dari gemelap dunia, demi menikmati keintiman dan rasa cintanya yang total pada Sang Pencipta. Mungkin ada dua nilai esensial sufi yang bisa diadopsi pelaku entrepreneur: nilai zuhud dan kecintaan total pada Sang Maha Pemberi Rezeki.

Sufipreneur mencoba mengadopsi dua nilai esensial sufism, adalah:
  1. Perilaku zuhud  dan 
  2. Rasa kecintaan total pd Sang Pencipta.
Perilaku zuhud atau asketisme merupakan sikap yang tidak mudah silau dengan gemerlap materi duniawi. Bagi sufipreneuer, kemegahan sejati tidak dibangun diatas kekayaan materi, tetapi melalui kekayaan spiritual dengan totalitas cintanya pada Sang Pencipta. Bagi seorang sufipreneur, kemegahan hakiki disulam melalui pergulatan spiritual dan rasa cintanya yang intens dengan Sang Pencipta. "Manunggaling kawulo Gusti" - inilah kredo legendaris yang ditapaki oleh para pejuang sufipreneur sejati. Sikap zuhud, sikap yang tidak silau dengan gemerlap kebendaan, adalah manifestasi dari prinsip manunggaling kawulo Gusti tadi. Sebab buat apa memamerkan kemewahan bendawi, saat kekayaan sejati dihadapan Sang Pencipta diukur dari seberapa intens rasa cintamu padaNYA.

Sikap zuhud (kebersahajaan) sebagai refleksi kecintaan total pada Sang Pencipta, layak dibentangkan dalam dunia yang dipenuhi dengan karnaval kemewahan. Sikap zuhud layak diinjeksikan dalam raga agar seorang sufipreneur bisa terus hidup bersahaja, dan tidak mudah silau dengan gemerlap materi. Tidak mudah meng-instal sikap zuhud (ajaran kebersahajaan sufi) dalam dunia yang dipenuhi dengan perlombaan mengejar materi. Secara instingtif, manusia itu juga mudah tergelincir dalam nafsu kemewahan dan gaya hidup hedonis. Istilahnya hedonic treadmill.

Hedonic treadmill adalah naluri alamiah manusia untuk selalu meningkatkan gaya hidup sejalan dengan peningkatan penghasilan. Saat penghasilan 10 jt/bln naiknya Avanza. Saat penghasilan naik jadi 100 jt/bln naiknya Alphard. Inilah hedonic treadmill. Hedonic treadmill adalah nafsu instingtif manusia. Nafsu untuk selalu memburu kemewahan materi. Nafsu yang tidak mudah dilawan. Saat penghasilanmu pas-pasan, kamu hidup sederhana, itu biasa. Saat penghasilanmu sudah 100 jt/bln, tetap naik angkot, itu yang luar biasa. Epic. Sufipreneur dengan teologi zuhud-nya mencoba melawan nafsu instingtif itu. Sebab sekali lagi, kemewahan sejati tidak diukur dari nafsu bendawi. Tidak mudah melawan godaan membeli Alphard saat penghasilanmu tembus 100 juta per bulan. Spirit sufipreneur harus terus ditumbuhkan. Mungkin perlu ada komunitas sufipreneur, dimana segenap anggotanya saling menasehati untuk memelihara sikap zuhud.

Kegiatan komunitas sufipreneur mungkin bukan buat seminar/diskusi bisnis. Namun lebih banyak dihabiskan dalam malam2 sunyi di rumah2 ibadah. Kegiatan komunitas sufipreneur mungkin bukan benchmark ke perusahaan bagus. Namun studi ke kuburan. Buat mengenang hidup sesudah mati. Tafakur dalam kesunyian malam. Merenung di kuburan. Mungkn ini justru lebih ampuh meningkatkan omzet daripada seminar2 bisnis. Seorang sufipreneur sejati selalu berupaya memelihara perilaku zuhud sebagai wujud rasa cintanya yang begitu menggelora pada Sang Pencipta.
Meski sudah menjadi milioner, seorang sufipreneur tetap terus memelihara sikap bersahaja, sikap zuhud sebagai ciri sufi sejati. Meski mampu, sang sufipreneuer sejati enggan membeli Alphard/Hummer, sebab ia merasa uangnya lebih baik diberikan kepada yang lebih membutuhkan.

Seorang sufipreneur sejati melakukan itu bukan semata-mata demi membantu sesama. Namun lebih karena wujud cintanya yang total kepada Sang Pencipta. Seorang sufipreneur sejati juga tidak bersedekah demi "imbalan rejeki" dimasa mendatang. Sufipreneur tidak kenal "niat transaksional" seperti itu. Sufipreneur melakoni sikap zuhud (bersahaja) dan tekun berbagi/berbuat kebaikan, semata dilakukan sebagai wujud cinta total pd Sang Pencipta. Dan rasa cinta itu adalah rasa cinta murni yang amat mendalam pada Sang Kekasih Hati. Manunggaling kawulo Gusti. Rasa cinta yang terus menggelora, untuk terus bercengkerama dengan Sang Kekasih Hati. Rasa cinta total sufi yg tanpa pamrih. Maka disini, sufipreneuer sejati selalu terngiang dengan ucapan dari sang sufi legendaris, Rabiah al Adawiyah, "Ya Allah aku mencintaimu bukan krn surga/neraka. Kalau saya mengabdiMU krn ingin mengharap surga, maka masukan aku ke neraka yang menyala2."
"Ya Allah aku mencintaimu bukan krn surga/neraka. Kalau saya mengabdiMU krn ingin mengharap surga, maka masukan aku ke neraka yang menyala2."
Sufipreneur yang berbagi profit dan tekun hidup bersahaja (zuhud), melakukanya semata karena rasa cinta total pada Sang Kekasih Hati. Itulah pokok2 pikiran dalam "Manifesto Sufipreneur" - sebuah gerakan untk menyatukan ideologi entrepreneurship dengan teologi sufisme.
Sufipreneur = ideologi entrepreneurship + teologi sufisme.
Gerakan sufipreneur dikibarkan demi hidup yang barokah, disini dan demi hidup sesudah mati. Juga demi rasa cinta total pd Sang Kekasih Hati.

Sumber:
https://twitter .com/Strategi_Bisnis