Generasi Digital Pemalas

Di Media Sosial, kita sering mengalami pertanyaan-pertanyaan yang sebenarnya bisa dicari sendiri di Internet.


Media Sosial
Sudah ada info harga, masih nanya berapa? Sudah jelas cara pesannya, masih juga nanya. Ada info poster dan info detil eh masih ada juga yang nanya. Katrok. Ini sering kali disebabkan oleh Attention span generasi digital, Hal ini memang kadang buruk banget.

Sering juga nanya karena malas scroll TL. Padahal dalam twit-twit sebelumnya sudah jelas diuraikan. Lazy digital generation seperti ini pertanda kemiskinan. #Eh. Attention Span generasi digital sekarang cenderung memburuk. Malas melakukan eksplorasi. Manja bertanya padahal sudah dijelaskan dan ada info.

Misal, Admin menguraikan buku. Lalu ada yang nanya beli bukunya dimana min. Ya di toko buku. Masak di Warteg. Come on. Be explorative. Terlalu mudah bertanya karena malas eksplorasi menemukan sendiri jawaban - ini salah satu perilaku aneh di era digital dan socmed.

Perilaku aneh lainnya di era digital/socmed : kirim email tanpa etika dan sopan santun. Beberapa kali admin mendapat email seperti ini. Emailnya tanpa subjek. Ini kesalahan fatal pertama. Mencerminkan pengirimnya malas dan tidak teliti. Sering terima email seperti ini. Lalu isi emailnya tanpa awalan, tanpa perkenalan, dan sering tanpa nama siapa pengirim dan tanpa ucapan terima kasih. Amazing. Email ajaib. Sering pula terjadi : isi email tidak ada paragrafnya. Sambung saja terus, tanpa komposisi paragraf yang rapi. Jadi capek bacanya. Email yang mutunya abal-abal.

Digital explosion sering tidak diimbangi dengan digital behavior yang juga smart. Kirim email tanpa etika adalah salah satu "bad digital behavior". Berikut beberapa poin yang layak dikenang saat kita mau kirim email. Hal yang nampaknya sepele tapi ternyata begitu banyak yang gagal melakukannya.

#1: Nama pengirim dan alamat email jelas.
Beberapa orang punya alamat email yang aneh dan nama yang muncul di inbox juga aneh. Alamat email : BlackPantherXX@gmail.com dengan menyebut nama Panther adalah aneh jika kita kirim email formal/untuk keperluan profesional. Beberapa kali menerima email dengan sebutan nama pengirim yang tidak jelas. Pastikan nama pengirim dan alamat email kita rapi dan profesional.

#2: Pastikan email kita ada subjeknya. 
Cek kembali sebelum send. Subjek yang jelas memudahkan penerima memahami isi email. Beberapa kali terima email dengan subjek kosong. Jadi males bukanya. Generasi digital yang buruk attention span-nya acap kirim email ceroboh seperti ini.

#3: Ada salam pembuka. 
Lalu kenalkan diri kita siapa, dari lembaga mana. Acap ada email tanpa ba bi bu, nyerocos saja emailnya.

#4: Isi Email yang Jelas.
Paparkan keperluan diri kita secara urut dan terpisah dalam beberapa paragraf. Hal ini mempermudah dalam membaca email kita.

#5: Pastikan ada kata penutup.
Setelah selesai menuliskan keperluan kita, tutuplah email tersebut dengan 1 paragraf kata penutup berupa ucapan terima kasih karena telah meluangkan waktu untuk membaca email kita. Setelah itu, salam penutup dan identitas kita.

Semoga Bermanfaat.

Sumber:
https://twitter .com/Strategi_Bisnis